top of page
Search

Tiga Jenis Diplomasi

Writer: Rivaldi Indrayana
Rivaldi Indrayana
Sep 5, 2024
5 min read

1.   Tiga perspektif Diplomasi Pencegahan (Preventif)


Tipe diplomasi ini merupakan jenis diplomasi yang dipelopori Presiden AS ke-28 Woodrow Wilson (1913-1921) yang menyatakan kelahiran Liga Bangsa-Bangsa atau LBB atas inisiatifnya untuk merealisasikan upaya perdamaian dunia yang dikenal lewat “The Fourteen Points.”

Sesuai dengan namanya, diplomasi preventif atau pencegahan memiliki tujuan untuk mengantisipasi pecahnya konflik bilateral maupun konflik antar pemerintah dengan kalangan warga minoritas di negaranya dan mencegah perselisahan sekaligus penyebarannya secara lebih luas. Terutama pada poin keempat, Presiden Truman turut menyatakan peran diplomasi preventif sebagai bentuk upaya perlawanan terhadap keterbelakangan lewat jalur perdagangan.[1]


Kemudian tipe diplomasi ini dibagi menjadi dua jenis, yakni diplomasi tradisional dan kontemporer yang dapat kita ketahui perbedaan mendasarnya dengan melihat bagaimana kedua jenis diplomasi tersebut melakukan aktivitasnya. Diplomasi preventif tradisional memusatkan perhatiannya kepada pencegahan konflik militer melalui pembentukan aliansi negara menurut kekuatan militernya. Sedangkan diplomasi preventif kontemporer (modern) nampaknya lebih banyak menaruh perhatian kepada aspek perkembangan ekonomi dunia yang mampu menimbulkan konflik perebutan sumber daya antar-negara.


Pesatnya perkembangan dunia yang ditandai dengan banyaknya konflik semakin meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan betapa pentingnya diplomasi preventif secara tradisional maupun modern tentunya dengan melihat ketiga perspektif berikut[2]:


a.    Individu. Aspek ini menyatakan bahwa individu ialah salah satu actor dengan peran penting yang wajib menyumbangkan kontribusinya untuk mewujudkan perdamaian sekaligus mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi. Perihal itu tak bisa hilang jika memakai kekuatan militer walau cara-cara kotor (kriminal) sering kali ditempuh orang-orang terdampak agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

 

Menyambung dari atas, aktor individu  mampu mempengaruhi individu-individu lain di belakangnya. Indeks kualitas pembangunan yang baik akan sanggup menghasilkan stabilitas ekonomi-politik yang juga. Tetapi jika indeks pembangunan buruk, maka ekonomi-politik pun akan turut buruk juga, tergantung kualitas individu yang terlibat.  

Contoh, sebagian warga Somalia yang memilih bekerja sebagai pembajak kapal laut di wilayah perairan negaranya lantaran selalu tertekan masalah ekonomi setiap saat. Pembangunan pun masih kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat, sehingga itu harus dilengkapi begitu juga pencegahan militer lainnya.


b.   Negara-bangsa, lebih menekankan betapa pentingnya peran aktor negara sebagai pemegang kunci kemajuan dunia. Mereka wajib mengajak para aktor non-negara bergerak ke arah kemajuan dengan mengikuti perkembangan-perubahan zaman termasuk ikut berpartisipasi aktif dalam menjalankan diplomasi preventif.

 

Contohnya, setiap negara dunia menerapkan mata pelajaran bahasa Inggris dalam sistem pendidikannya sebagai cara bagaimana mereka mempersiapkan warganya agar tidak kalah bersaing dengan negara lain sekaligus untuk mencegah ketertinggalan berbagai bidang.

 

c.    Sistem Internasional, menjalankan diplomasi preventif patut mengikuti tatanan sistem internasional yang memperhatikan pengaruh perilaku negara terhadap aktor internasional, seperti misalnya keinginan Amerika Serikat untuk membombardir basis terorisme di Timur Tengah melalui perang yang justru memantik reaksi perang dari negara setempat dalam peristiwa intervensi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003.

 

2.   Peran Media Massa dalam Diplomasi Publik


Keterbukaan tidak lain tidak bukan ialah syarat mutlak tercapainya tujuan diplomasi publik yang isinya wajib diketahui khalayak ramai. Alasan mengapa upaya diplomasi publik memerlukan suatu keterbukaan informasi adalah agar tujuannya mudah tercapai dengan mendapat banyak dukungan publik. Jenis diplomasi ini sendiri lebih banyak mengalami perkembangan yang cukup signifikan di era modern sesuai dengan pernyataan Harold Nicholson, seorang pakar diplomasi yang berbunyi:

“Perkembangan teknologi komunikasi menyebabkan peran dan fungsi seorang duta besar semakin berkurang dan diplomat-diplomat turun statusnya sebagai tenaga administrasi elite.”[3]

Ucapan Harold Nicholson barusan jelas menunjukkan perubahan bentuk diplomasi dari masa ke masa sesuai perkembangan zaman. Peran aktor negara pada masa modern bersaing semakin ketat dengan peran aktor non-negara dalam hal ini media massa.

Langkah-langkah negosiasi yang dilakukan oleh para aktor negara, baik kepala negara/pemerintahan seperti presiden, raja, perdana menteri dan sejenisnya maupun para diplomat/atau duta besar kadang kala tak bisa berjalan baik jika tidak didukung media massa dengan fungsinya sebagai jembatan merangkap penyambung lidah pemerintah dan rakyatnya.


Suatu keputusan bisa saja diambil dengan menuruti tekanan massa melalui peran media massa barusan dan keberhasilan aktor negara menjalankan langkah diplomasi publik juga ikut ditentukan oleh seberapa besar dukungan para aktor non-negara (termasuk rakyat dan media massa). Ini sekaligus menandai seberapa efektifnya kolaborasi kedua pihak di atas ketika mereka tengah berunding.


Sebagai contoh kasus paling kontemporer yang saat ini tengah berlangsung adalah popularitas budaya Korea alias “K-Pop/Hallyu” di Indonesia, membuat keran diplomasi publik dengan Korea Selatan terbuka secara tidak langsung terbukti lewat banyaknya anak remaja/muda yang merespon positif popularitas “K-Pop/Hallyu” menandakan jika diplomasi publik Indonesia-Korea Selatan (begitu pula sebaliknya) berhasil.


Tak ayal lagi contoh kasus demikian layak dinobatkan menjadi salah satu contoh diplomasi publik yang paling berhasil dilakukan di era kontemporer saat ini. Aktor non-negara bisa saja terlihat lebih berkuasa daripada aktor negara yang hanya terkesan sebagai pihak yang menjalankan keinginan aktor non-negara.

 

3.   Geopolitik dan Geoekonomi dalam Diplomasi Ekonomi  

 

Kedua konsep ini berangkat dari Geografi sebagai cabang ilmu dasar yang membentuk mereka sebagai suatu teori baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Geografi sendiri berperan membentuk negara dan bangsa (nation and states) berdasarkan unsur identitas, karakter serta sejarahnya namun sekaligus juga menghalangi perkembangan-kemajuan ekonomi, sosial dan politik yang turut memegang peran penting memainkan dinamika hubungan internasional.

 

a.    Geopolitik: Ialah suatu studi yang mempelajari bagaimana pengaruh faktor geografis terhadap perilaku negara dilihat dari letak lokasi, iklim/cuaca, kualitas sumber daya alam serta populasi sebagai penentu pilihan kebijakan luar negeri dan hierarki negara. Pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Thayer Mahan (1840-1914) dan Sir Halford John Mackinder (1861-1947).

 

Mahan memaparkan kekuatan laut sebagai kunci negara mendominasi hubungan internasional seperti halnya Inggris dengan segala kecanggihan dan fasilitas armada angkatan lautnya yang memadai. Lalu Mackinder melengkapi dengan pendapat pribadinya tentang kemampuan negara mengontrol dunia lewat mengontrol teritori antara Jerman-Siberia.

 

b.   Geoekonomi: Menunjukkan upaya negara meraih dan mempertahankan keuntungan ekonomi. Perang tidak hanya sebagai sarana unjuk kekuatan militer, melainkan sekaligus untuk meningkatkan kedudukan ekonomi.

 

Selain itu, konsep geoekonomi turut memperhatikan aspek perkembangan sosial yang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi serta fenomena globalisasi.

 

Kedua konsep di atas memiliki bukti nyata berupa Jalur Sutra Modern yang dibuat demi mendorong laju pembangunan ekonomi domestik dan internasional.[4]  

 

Persamaan konsep geopolitik dan geoekonomi terletak pada bagaimana sekaligus seperti apa cara mereka memandang perkembangan suatu negara dari masa ke masa melalui sejumlah kekuatan aspek kehidupannya.

 

Seperti yang sudah ditulis di atas tadi, perbedaan mereka bisa dilihat dari sudut pandang masing-masing. Geopolitik melihat perkembangan negara dari seberapa besar kekuatan politik dan militernya, sedangkan geoekonomi melihat seberapa besar pertumbuhan serta pembangunan ekonomi suatu negara.  

 

A.  Kesimpulan

 

Ketiga jenis diplomasi di atas beserta seluruh komponen pendukungnya mengantongi peran yang sangat penting dalam menjalankan diplomasi di masa lalu maupun era kontemporer seperti saat ini. Mereka telah berhasil membuktikan bahwa aktor non-negara bisa terlihat lebih berkuasa ketimbang aktor negara walau secara hierarki, para aktor negara yang terdiri atas kepala negara, kepala pemerintahan serta diplomat berada pada kedudukan lebih tinggi daripada aktor non-negara.

 

Media massa adalah salah satu contohnya. Ia memainkan peranan yang sangat penting di era kontemporer ini dengan mengangkat beragam isu yang sanggup menekan aktor negara sampai ia hanya terlihat seperti pihak yang menjalankan keinginan/penyebab tekanan massa.

 

Unsur-unsur lain seperti yang sudah ditulis di atas pun akan turut memberi pengaruh yang signifikan terhadap bagaimana proses berjalannya diplomasi, sekali lagi sekaligus menandakan bahwa peran actor non-negara tidak patut diremehkan apalagi di era kontemporer seperti ini.


Sumber:


[1] Sukawarsini Djelantik. 2007. “Diplomasi antara Teori & Praktik” Hal. 161-162. 

[2] Ibid, Hal. 169-181.

[3] Ibid, Hal. 189-190.

[4] Indriana Kartini. 2015. “Kebijakan Jalur Sutra Baru Cina dan Implikasinya bagi Amerika Serikat.” http://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/view/334/205, diakses 7 Maret 2019 pukul 07.05 WIB

 
 
 

Recent Posts

See All
Definisi Globalisasi

Seperti yang kita ketahui, Globalisasi merupakan suatu proses dimana aspek-aspek kehidupan masyarakat dunia yang mencakup bidang...

 
 
 

Comments


bottom of page