Definisi Globalisasi
Seperti yang kita ketahui, Globalisasi merupakan suatu proses dimana aspek-aspek kehidupan masyarakat dunia yang mencakup bidang perekonomian, politik, sosial-budaya, pendidikan, perkembangan teknologi dan lain sebagainya mengalami perkembangan yang sangat pesat dan bisa menjangkau negara lain tanpa mengenal lagi sekat-sekat batas geografis serta non-geografis. Hal-hal seperti itu sudah tidak bisa dihindari lagi di masa kini seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman dari waktu ke waktu.
Globalisasi tentu memiliki dampak positif dan negatif. Contoh dari dampak positif akan adanya Globalisasi adalah konektivitas antar kawasan yang semakin cepat melalui jaringan internet atau media sosial sekaligus perkembangan teknologi yang kian hari kian canggih, serta itu dapat membantu kita mengenal budaya lain dengan cepat dan mudah. Sedangkan contoh dari dampak negatif akan adanya Globalisasi adalah lunturnya jati diri suatu bangsa (nasionalisme dan patriotisme) oleh karena gempuran budaya luar baik itu dari kawasan Barat atau Korea yang seringkali dianggap lebih modern oleh generasi zaman sekarang sehingga budaya lokal-tradisional sering dilupakan.
Lalu keamanan non-tradisional sendiri memiliki karakterisitik berupa jenis ancaman yang diberikan. Jika keamanan tradisional lazimnya menggunakan ancaman serangan militer, maka keamanan non-tradisional menggunakan ancaman serangan non-militer yang bisa dilancarkan dalam bentuk kecanggihan teknologi, kebudayaan, ekonomi, politik, dan lain-lain.
Munculnya keamanan non-tradisional juga didukung oleh proses-proses regionalisme. Menurut Andrew Hurrel (1995), proses-proses regionalisme dibagi ke dalam lima tahap yang di antaranya adalah:
1. Regionalisasi (pertumbuhan integrasi kemasyarakatan dalam suatu wilayah, dibagi lagi menjadi soft regionalism & transactional regionalism),
2. Kesadaran dan identitas regional (pandangan mengenai rasa memiliki komunitas tertentu yang diikat faktor internal),
3. Kerja sama regional antar negara (negosiasi bilateral antar rezim pemerintahan untuk meningkatkan kesejahteraan, kebersamaan dan menyelesaikan masalah regional serta membangun institusi formal dengan tujuan luas),[1]
4. Integrasi regional yang didukung negara (Lebih cenderung menekankan kerja sama dalam bidang ekonomi),
5. Kohesi regional (gabungan dari empat proses terdahulu, mencakup gabungan organisasi supranasional, integrasi ekonomi, rezim pemerintahan dan intergoverntalisme tradisional dengan supanasionalisme).
b. Kepopuleran Budaya Korea (Contoh globalisasi dalam bidang kebudayaan)
Beberapa tahun belakangan ini, Budaya Korea Selatan atau yang sering disebut K-Pop sangat populer di mancanegara terutama Indonesia dan lazimnya digandrungi oleh kalangan anak muda. Hal tersebut terjadi dikarenakan proses globalisasi yang semakin tidak terbendung lagi diikuti oleh perkembangan teknologi yang kian hari kian canggih. Lalu faktor-faktor lain penyebab budaya Korea bisa menjadi sangat populer yakni karena aliran musiknya adalah aliran baru, bisa diubah dalam sekejap, konten lirik dengan bahasa yang sopan, keunggulan pesona fisik dari musisinya, gaya pakaian serta koreografi yang lebih inovatif, kesiapan musisi dalam berkarier dan kematangan fisik.
Fenomena K-Pop juga sering disebut gelombang Hallyu. Sebenarnya fenomena ini sudah muncul sejak tahun 1990-an melalui hadirnya sejumlah grup legendaris disusul grup kondang pada tahun 2000-an dan terakhir, generasi ketiga setelah tahun 2010.
Kemudian, rupanya fenomena K-Pop tidak hanya menjangkiti anak-anak remaja di Indonesia melainkan remaja-remaja di wilayah Palestina dan Israel yang sedang berkonflik pun sudah terjangkit fenomena itu. Terbukti lewat sebuah penelitian dari sebuah universitas di Israel, diprediksi bahwa wilayah Palestina mengantongi 3.000 pecinta budaya Korea dan Israel mengantongi sebanyak 5.000 pecinta budaya Korea. Diungkapkan oleh para peneliti di sana, situasi seperti ini sangat diharapkan untuk bisa mendamaikan keadaan saat ini, terutama dengan anak-anak muda Palestina-Israel melihat fenomena K-Pop sebagai modal budaya dan fenomena K-Pop pula telah menyasar orang-orang di wilayah Mesir serta Iran.
1. Upaya penyelesaian
Faktor globalisasi seperti yang sudah dikatakan di atas, memang sama sekali tidak bisa dihindari, dicegah atau diantisipasi oleh pemerintah negara manapun termasuk Pemerintah Indonesia sebagaimana proses perkembangan zaman bergulir. Namun dampak kepopuleran Budaya Korea yang mampu melunturkan jati diri asli bangsa sekaligus nasionalisme anak-anak muda masih bisa dicegah bersama-sama oleh pemerintah dan rakyatnya melalu beragam cara atau langkah. Contohnya yang paling konkrit, yakni dengan menyelenggarakan momentum karnaval kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada bulan Agustus di setiap tahun.
Momentum tersebut dinamakan “Karnaval Kemerdekaan” dengan beragam tema dan diselenggarakan di setiap daerah yang berbeda-beda setiap tahunnya. Terakhir, Karnaval Kemerdekaan diselenggarakan di Kota Bandung dengan mengusung tema “Pesona Parahyangan 2017.” Seperti momentum-momentum sebelumnya, Karnaval Kemerdekaan “Pesona Parahyangan 2017” turut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo beserta segenap jajaran Kabinet Kerja dalam pemerintahannya. Momentum ini menampilkan macam-macam kebudayaan dari seluruh Indonesia dan turut dihadiri oleh banyak orang yang menonton langsung di sana.
Serta untuk lebih meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dengan Korea Selatan, pemerintah bisa membuka program pertukaran pemuda baik itu pertukaran Indonesia-Korea atau sebaliknya sekaligus untuk lebih bisa saling memperkenalkan kebudayaan masing-masing negara, dan meningkatkan harkat-martabat kedua negara di mata dunia.
2. Keberhasilan
Fenomena K-Pop sendiri untuk saat ini tengah mengalami keredupan, tidak terlalu meledak dibanding saat awal kemunculannya dalam kurun waktu 2011 hingga 2012 silam. Sehingga oleh karena itu, tolok ukur keberhasilan atau kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi kemerosotan nasionalisme generasi muda bangsa karena kepopuleran budaya Korea dapat dikatakan relatif, tidak berhasil namun tidak gagal juga. Akan tetapi jika dilihat dari pawai kebudayaan penyelenggaraan Karnaval Kemerdekaan di atas tadi, banyaknya jumlah orang yang menonton menandakan bahwa upaya Pemerintah Indonesia dalam mencegah kemerosotan jati diri bangsa akibat fenomena K-Pop bisa dikatakan sudah membuahkan hasil.
Sumber:
[1] Erdianto, Kristian, 2017, Wiranto sebut Saracen sebagai Ancaman Nasional Non-Militer, https://nasional.kompas.com/read/2017/08/30/16084541/wiranto-sebut-kelompok-saracen-sebagai-ancaman-nasional-non-militer, diakses 15 Maret 2018,
2. S., Nuraeini, Silvya, Deasy dan Sudirman, Arif, 2017, Regionalisme Dalam Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
3. Ruslan, Heri, 2012, Alasan Remaja Dunia Kecanduan K-Pop, http://www.republika.co.id/berita/senggang/musik/12/05/01/m3chbz-ini-alasan-remaja-dunia-kecanduan-kpop, diakses 16 Maret 2018,
4. Lee, Nina, 2018, E-X-TO THE-O, Grasindo, DKI Jakarta,
5. Panggabean, Vincent Asido, Fenomena K-Pop bawa harapan bagi perdamaian Timur Tengah, https://www.merdeka.com/dunia/fenomena-k-pop-bawa-harapan-bagi-perdamaian-timur-tengah.html, diakses 16 Maret 2018.
Comments