top of page
Search

The Non-Traditional Security (Keamanan Non-Tradisional): Insiden Pengeboman Pesawat Air India 182 Sebagai Dampak Bentuk Ancaman Pembubaran Ajaran Sikh di India Terhadap Keamanan Warga Negara India dan

Writer: Rivaldi Indrayana
Rivaldi Indrayana
Sep 5, 2024
4 min read

Kalau diurut lagi berdasarkan bukti-bukti sejarah nan empiris sejak dulu sampai sekarang, pertengahan dekade 1980-an silam sebenarnya merupakan sebuah tenggat waktu yang sangat kacau bagi reputasi sistem perpolitikan India dikarenakan gejolak politik yang juga terus terjadi sampai berulang-ulang kali saat itu. Lebih tepatnya pada bulan Juni 1984, di tengah-tengah situasi yang juga tidak kalah sangat kacaunya itu, Perdana Menteri India ke-3 Indira Gandhi (1980-1984) mengeluarkan perintah kepada pasukan militer negaranya untuk melancarkan serangan terhadap Komplek Kuil Suci Umat Sih di Kota Amritsar, India. Operasi penyerangan militer ini diberi nama sandi “Operasi Bintang Biru” dengan menjadikan Jarnail Singh Bhindranwale sebagai target utama sasaran mereka. Untuk diketahui, Jarnail Singh Bhindrawale itu sendiri merupakan seorang tokoh pejuang kemerdekaan Khalistan nan populer pada masa itu. Lalu dalam sumber kutipan tulisan artikel paper ini, disebutkan bahwa operasi penyerangan itu ternyata sebenarnya tidak hanya melibatkan militer, melainkan juga pasukan penjaga perbatasan wilayah, aparat kepolisian, organisasi masyarakat (ormas) paramiliter dan sejumlah unsur aparat keamanan lainnya yang ikut terlibat mencari Jarnail Singh Bhindranwale.


        Tidak butuh waktu lama, operasi penyerangan ini akhirnya berhasil menewaskan Jarnail Singh Bhindranwale pada 6 Juni 1984. Selain Jarnail Singh Bhindrawale itu sendiri, Operasi Bintang Biru ini turut sekaligus menewaskan ratusan warga sipil yakni 400 orang dan 87 tentara. Sedangkan jumlah korban tewas dari kelompok penganut Sikh itu sendiri diperkirakan hampir mencapai 1.000 orang termasuk dengan mencakup para peziarah kuil diikuti kerusakan parah pada area kompleks kuil. Untuk diketahui, Operasi Bintang Biru ini sebenarnya memang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari dimana India sempat meminta pendapat dan restu dari Inggris terkait rencana penyingkiran kelompok ekstremis Sikh dari komplek kuil di Amritsar sebelum kemudian Inggris menyatakan persetujuannya atas rencana itu dengan mengirim seorang utusan ke India guna menyusun rencana strategi serangan.

      

      Lalu karena kelompok penganut Sikh itu tadi lantas merasa dendam kepada Pemerintah India atas tindakan operasi penyerangan militer di kuil Amritsar itu, tidak tanggung-tanggung mereka langsung melancarkan serangan balas dendam kepada Perdana Menteri India ke-3 Indira Gandhi (1980-1984) dengan membunuhnya pada 31 Oktober 1984. Pelakunya sendiri tidak lain tidak bukan adalah dua pengawalnya sendiri yang kebetulan berasal dari kelompok Sikh. Usai terjadinya insiden tersebut, peristiwa kerusuhan anti-Sikh terus meletus dan meluas. Partai Kongres Nasional sebagai partai politik penguasa India saat itu pun kerap kali mendorong massa agar tidak takut dan tidak ragu-ragu melancarkan serangan terhadap kelompok Sikh sebagaimana dulu Perdana Menteri India ke-3 Indira Gandhi (1980-1984) pernah melakukannya sendiri semasa hidupnya. Sang putra yang bernama Rajiv Gandhi pun turut tidak ketinggalan melegitimasi tindak kekerasan ini dengan mengibaratkan pohon kuat yang terjatuh sehingga membuat daratan di sekitarnya terguncang. Serta para perusuh itu pun melancarkan serangan secara terstruktur dan sistematis kepada keluarga kelompok Sikh di sejumlah wilayah pinggiran seperti Mongolpuri, Palam, Shahdara, Trilokpuri, Sultanpuri dan Trans-Yamuna.

 

Hasilnya, hanya dalam kurun waktu tiga hari operasi penyerangan itu tercatat berhasil menewaskan sebanyak 2.733 orang dari kelompok Sikh sambil tidak lupa harta bendanya turut dijarah atau sekaligus dihancurkan dan wanita pun menjadi kelompok atau golongan yang paling rentan dari serangan ini karena mereka pun banyak yang menjadi korban pemerkosaan. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai kerusuhan anti-Sikh 1984 termasuk menjadi sebuah peristiwa pelanggaran HAM berat di India dengan penyelesaiannya yang mandek karena ketika Tim Human Rights Watch (HRW) merilis laporan hasil temuan investigasinya pada 2014 silam, banyak korban, saksi bahkan pelaku yang sudah meninggal dunia. Sedangkan sisa para tersangka yang masih hidup pun tidak segan-segan mengancam serta mengintimidasi saksi, diikuti perusakan sejumlah alat bukti oleh pihak kepolisian yang lalu membuat para pelaku itu bisa terbebas dari jeratan hukum.[1]

        

Tidak cukup berhenti sampai di situ, peristiwa saling menyerang dan melancarkan balas dendam ini pun masih terus berlanjut dalam tempo satu tahun berselang. Pada 23 Juni 1985 silam, sebuah pesawat komersial milik India itu sendiri yakni Air India 182 tengah menempuh rute perjalanan jarak jauhnya dari Toronto, Kanada menuju ke Mumbai, India dengan sejumlah perhentian rutin untuk transit di Montreal, Kanada dan London, Inggris. Awalnya perjalanan penerbangan oleh Pesawat Boeing 747 yang diberi nama “Kanishka” atau “Istana Terbang” lantaran nuansa interior pesawatnya yang tergolong mewah pada masanya tersebut berjalan dengan lancar dan baik-baik saja, kecuali saat sedang berhenti di Montreal, Kanada, otoritas setempat sempat mengeluarkan sebanyak tiga paket mencurigakan dari bagasi Pesawat Air India 182. Usai itu, Pesawat Air India 182 langsung meneruskan lagi perjalanan jarak jauh mereka menuju ke London, Inggris sekaligus sebagai penerbangan dengan rute atau jalur trans-atlantik sepanjang masa perjalanan jarak jauhnya itu.


            Pesawat Air India 182 ini pun bahkan seharusnya sudah langsung menjalin komunikasi dengan menara pengawas udara Bandara Heathrow di London, Inggris hanya dalam beberapa jam sebelum mendarat usai sebelumnya juga sempat menjalin komunikasi langsung dengan menara pengawas udara Bandara Shannon, Irlandia. Akan tetapi hanya dalam kurun waktu selama 45 menit sebelum mendarat di Bandara Heathrow di London, Inggris, Pesawat Air India 182 tiba-tiba menghilang dari radar sama sekali tanpa mengeluarkan peringatan atau panggilan darurat. Menanggapi insiden menghilangnya Pesawat Air India 182 secara misterius ini, pengawas udara Bandara Heathrow pun langsung menyatakan keadaan darurat dengan mengevakuasi para korban secara keseluruhan di lepas perairan pantai/laut Inggris-Irlandia. Ketika proses evakuasi berjalan, seluruh regu penyelamat hanya bisa menemukan dan mengevakuasi sebanyak 131 korban dari total keseluruhan jumlah korban insiden jatuhnya Pesawat Air India 182 dalam perjalanannya dari Toronto, Kanada menuju ke London, Inggris dengan perhentian rutin sebanyak satu kali di Montreal, Kanada, ini.

           

Sesaat usai proses evakuasi dilangsungkan, penyelidikan atas penyebab mengenai insiden jatuhnya Pesawat Air India 182 di lepas perairan pantai/laut Inggris-Irlandia ini pun langsung digelar juga. Hasilnya, otoritas terkait menemukan dan menyimpulkan bahwa kelompok Sikh sesungguhnya masih terlibat dalam serangan ini sebagai dalangnya secara langsung. Mereka diketahui menyamar sebagai penumpang dengan membawa koper, paket atau barang-barang mencurigakan di bagasi. Namun sepengetahuan penulis juga, mereka diketahui tidak ikut terbang sebagai penumpang dan hanya mengirim koper, paket atau barang-barang mencurigakan berisi bom waktu yang sudah disetel waktu ledakannya persis ketika pesawat ini sedang berada di udara. Usai penyelidikan ini berlangsung, sejumlah tokoh-tokoh kelompok Sikh yang dicurigai sebagai dalang pun sempat ditangkap namun salah satunya kemudian dibebaskan karena tidak cukup bukti sedangkan sisa yang lainnya lagi ditangkap dan diadili-diproses secara hukum dalam tempo belasan hingga puluhan tahun berselang sebelum Pemerintah Kanada menyatakan penyelidikan ulang pada tahun 2006 hingga 2010 dengan menyatakan bahwa dalam insiden tersebut disebabkan oleh gabungan sejumlah masalah dan kegagalan pencegahan oleh pihak keamanan setempat saat itu.[2]  


Sumber:


[1] Tony Firman. Tirto.id. 2018. “Persekusi India terhadap Sikh Suburkan Gerakan Separatis Khalistan.” https://tirto.id/persekusi-india-terhadap-sikh-suburkan-gerakan-separatis-khalistan-dba7. Diakses 10 November 2022 Pukul 06.50 WIB.


[2] Adam Zeidan. Britannica.com. 2022. “Air India Flight 182 disaster.” https://www.britannica.com/topic/Air-India. Diakses 10 November 2022 Pukul 07.25 WIB.

 
 
 

Recent Posts

See All
Definisi Globalisasi

Seperti yang kita ketahui, Globalisasi merupakan suatu proses dimana aspek-aspek kehidupan masyarakat dunia yang mencakup bidang...

 
 
 

Comments


bottom of page