Perlawanan Tiongkok Atas Pakta Aliansi Serupa NATO di Kawasan Asia-Pasifik (Juni 2023)
Beberapa waktu lalu, Saya kebetulan sudah pernah menulis tentang isu serupa ketika NATO berencana untuk membuka kantor penghubung mitra dialognya di Tokyo, Jepang yang disinyalir sebagai upaya negara-negara barat beserta para sekutunya untuk membendung kebangkitan pengaruh atau hegemoni Tiongkok di tingkat Kawasan Asia-Pasifik ini. Dan hal inipun jelas kemudian memancing reaksi keras dari Tiongkok terhadap negara-negara barat yang dianggapnya sebagai ‘musuh’ tersebut. Lalu sekarang, Isu tersebut muncul lagi hanya saja kini disertai sebuah perbedaan yang cukup signifikan sebagai penyebabnya, Yakni mengenai tindakan manuver oleh Armada Kapal Perang Amerika Serikat dan Tiongkok di Selat Taiwan. Dan berikut inilah ulasan lengkap terbarunya.
Menteri Pertahanan Tiongkok Li Shangfu pada hari Sabtu lalu memperingatkan bahwa Pakta Aliansi Serupa NATO di Kawasan Asia Pasifik nantinya akan menjerumuskan kawasan ini untuk masuk ke sebuah “kubangan” konflik. Menhan Tiongkok Li Shangfu ini dirilis hanya berselang beberapa hari setelah Armada Kapal Perang Amerika Serikat dan Tiongkok saling bermanuver satu sama lain dalam posisi yang sangat dekat di Wilayah Selat Taiwan sebelum kemudian saling menimbulkan provokasi satu sama lain di antara kedua belah pihak.
“Pakta Aliansi Serupa NATO di Kawasan Asia Pasifik ini jelas merupakan sebuah cara untuk menjebak negara-negara di dalamnya serta meningkatkan konflik dan konfrontasi.” Ujar Menhan Tiongkok Li Shangfu dalam acara konferensi yang sama dengan Menhan RI Prabowo Subianto di Singapura sebagaimana itu juga dihadiri secara langsung oleh Menteri Pertahanan AmerikaSerikat Lloyd Austin. Menhan Tiongkok Li Shangfu sekali lagi menyebut ini hanya akan menjerumuskan negara-negaranya tersebut ke dalam kubangan konflik sekaligus kometarnya ini juga mengacu kepada pandangan negaranya mengenai upaya Amerika Serikat dalam membangun aliansi di Kawasan Asia Pasifik untuk membendung kebangkitan pengaruh atau hegemoni Tiongkok di sini.
Hal ini juga sekaligus mengingat bahwa Amerika Serikat adalah anggota AUKUS bersama Australia dan Inggris. Sekaligus juga QUAD dengan India dan Jepang. “Sekarang Kawasan Asia Pasifik membutuhkan keterbukaan dan kerja sama yang inklusif, Bukan malah justru memperkecil lingkupnya.” Ujar Menhan Tiongkok Li Shangfu dalam acara di Singapura tersebut, Sambil sekaligus menuduh Amerika Serikat sebagai biang keladi atas konflik dan instabilitas regional seiring negaranya yang melihat peningkatan tensi ketegangan. Menurutnya, selain bagi Tiongkok, Nantinya jika konflik atau tensi ketegangan dengan Amerika Serikat meningkat maka otomatis hal ini juga akan melahirkan dampak yang signifikan terhadap dunia yang dianggapnya sebagai penyakit parah atau kronis.
Peristiwa manuver antara oleh armada kapal perang kedua negara ini lalu dianggap sebagai sebuah ‘miskalkulasi‘ dimana pada saat bersamaan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin mengadakan pertemuan bersama Delegasi Tiongkok untuk membahasnya sekaligus menganggap hal ini juga sebagai sebuah ‘kesalah-pahaman’ yang terjadi di antara kedua belah pihak. Tiongkok merespon hal ini dengan mengirimkan salah satu armada kapal perangnya untuk langsung segera bermanuver mendekati Armada Kapal Perang Amerika Serikat yang juga sekaligus menjadi kapal penghancur (destroyer ships) yakni USS Chung-Hoon mengikuti keputusan dari Pentagon untuk Armada Pasukan Amerika Serikat.
Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai teritorinya sendiri yang memungkinkan bagi dia untuk bisa saja segera mencaploknya menjadi sebuah bagian darinya pada suatu hari nanti dengan kekuatan seiring terjadinya peningkatan pengaruh politik dan militer di sana. Sedangkan Menhan AS Lloyd Austin mendeskripsikan kejadian ini pun sebagai sesuatu yang sangat berbahaya sekaligus dengan mengatakan bahwa Armada Kapal Perang Tiongkok tersebut hanya berjarak 100 Meter dari Armada Kapal Perang AS USS Chung-Hoon. “Saya ingin agar Kepemimpinan Tiongkok bisa melakukan yang baik dan benar sesuai petunjuknya, Mengingat insiden-insiden yang sebelumnya sudah pernah terjadi bisa saja berlangsung sampai jauh di luar kendali.” Ujar Menhan AS Lloyd Austin kepada awak media di Singapura saat itu.
Hal ini kemudian juga disebut sebagai manuver agresif yang tidak bisa oleh salah satu Pilot Angkatan Udara Tiongkok yang pada saat hari kejadian juga tengah bermanuver dekat Laut Tiongkok Selatan sebelumnya. Sedangkan Menhan Tiongkok Li Shangfu mengatakan bahwa inti utama masalahnya adalah AmerikaSerikat yang dinilai harus segera menarik kekuatan armada pasukannya dari sekitar Tiongkok. “Pasukan Angkatan Udara dan Angkatan Laut kami juga tidak akan memasuki wilayah territorial negara lain untuk meningkatkan hegemoni navigasi kami. Salah satu cara terbaik di sini adalah mengatur formasi ulang pertahanan dari udara dan laut bagi kami. Sebenarnya apa yang dicari oleh Amerika Serikat di sini?” Tandas Menhan Tiongkok Li Shangfu di Singapura tempo hari.
Kesempatan di Singapura ini juga dimanfaatkan oleh Menhan AS Lloyd Austin dan Menhan Tiongkok Li Shangfu untuk saling bertemu dan berjabat tangan satu sama lain walau tidak ada substansi yang cukup signifikan untuk dibahas di antara mereka berdua pada saat itu. Sebelum itu, Sebenarnya AmerikaSerikat juga sudah sempat mengalami penolakan undangan bertemu dari Tiongkok dalam acara tersebut. Dan secara terpisah, perubahan sanksi oleh AS terhadap Tiongkok juga bersifat situasional untuk dibicarakan mengingat sebelumnya sejumlah Pejabat AS juga sudah mengadakan perjalanan ke Tiongkok seiring Menhan AS Lloyd Austin yang menekankan target kemitraan negaranya dengan kawasan ini agar menjadi bersifat lebih bebas, terbuka dan aman.
Sumber: Koran The Jakarta Post Edisi Hari Senin 5 Juni 2023, Hal. 1 & 11. “China warns against ‘NATO-like’ pacts in Asia-Pacific.” (Ditulis oleh Martin Abbugao, Agence France Presse/AFP-Singapore).
Comments