top of page
Search

Kebangkitan Hegemoni Tiongkok dalam Mendamaikan Arab Saudi-Iran dan Rusia-Ukraina

Writer: Rivaldi Indrayana
Rivaldi Indrayana
Sep 5, 2024
7 min read

Kali ini, saya menulis lagi mengenai Peran Tiongkok dengan tangan besinya dalam mendamaikan sebanyak dua pasang negara yang pernah dan sedang bersitegang di dunia ini, yakni Arab Saudi dan Iran serta Rusia dan Ukraina. Yang paling hangat sekaligus baru adalah Rusia dan Ukraina sebagaimana invasinya meletus di sana sejak satu tahun yang lalu, menimbulkan sejumlah ketegangan antar-negara dan ketidakpastian situasi global (geopolitik) di saat seharusnya dunia sudah mulai bangkit lagi usai dua tahun berturut-turut dihantam Pandemi Covid-19 dan Resesi Ekonomi. Di tengah-tengah ketegangan yang banyak melibatkan negara-negara barat bersama para sekutunya itu, menurut kami secara tiba-tiba tak terduga Tiongkok muncul sebagai negara mediator yang mendadak bisa mendamaikan negara-negara nan sedang bersitegang tersebut. Menurut kami, hal ini tak pelak jadi terlihat sangat menarik untuk dibahas lantaran negara berjulukan ‘Negeri Tirai Bambu’ ini pun kebetulan memang sedang naik daun apalagi diiringi dengan terpilihnya Presiden Xi Jinping untuk ketiga kali sepanjang sejarah Tiongkok.


        Tak pelak, hal ini juga membuat kami jadi merasa sangat penasaran dan terus bertanya-tanya soal ada apakah gerangan dengan Tiongkok pada awal Tahun 2023 ini. Kemudian tanpa perlu menunggu berlama-lama lagi, lebih baik sekarang kita langsung saja membedah semuanya di sini yuk…


a. Bagian Pertama:


Keputusan Arab Saudi dan Iran untuk melakukan rekonsiliasi guna memulihkan hubungan diplomatik mereka yang sudah terputus selama tujuh tahun terhitung efektif sejak Bulan Januari 2016 ini pun memang sangat layak dibilang sebagai sebuah kejutan atau kutipan sumber untuk Draft Thread Twitter ini pun menyebutkannya sebagai perkembangan out of the box dalam perkembangan isu Timur Tengah. Usut punya usut, rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Iran ini rupanya difasilitasi atau dimediatori oleh Tiongkok sebagai penengahnya di Kota Beijing dalam sebuah pertemuan antara ketiganya pada Hari Jumat tanggal 10 Maret 2023 lalu. Peristiwa ini lalu disetarakan lagi dengan sejumlah peristiwa besar yang selama ini pernah terjadi di Timur Tengah yakni Revolusi Iran 1979, Perdamaian Mesir-Israel (Camp David) 1979, Kesepakatan Palestina-Israel (Oslo) 1993, Musim Semi Arab 2010-2011 dan Visi Arab Saudi 2030.

 

Sejak terjadinya Peristiwa Revolusi Iran 1979, hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran memang sering memanas karena Iran di bawah Imam Khomeini rutin sekali menyuarakan Slogan “Ekspor Revolusi” sekaligus membuat Arab Saudi sebagai Negara Monarki Absolut jadi sering merasa was-was setiap kali memandang Iran setelah Revolusi 1979. Ketegangan ini baru mencapai puncaknya pada Bulan Januari 2016 silam ketika kedua negara memutuskan untuk mengakhiri hubungan diplomatik menyusul terjadinya peristiwa serangan oleh Massa Iran terhadap Kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi di Teheran dan Konsulat Jenderal (Konjen) Arab Saudi di Mashhad sebagai protes atas keputusan Arab Saudi untuk mengeksekusi mati Tokoh Syiah Nimr Al-Nimr.

 

Tujuh tahun kemudian yakni pada awal Tahun 2023 ini, dengan mediasi oleh Tiongkok sebagai pihak ketiga, Arab Saudi dan Iran tahu-tahu mencapai sebuah kesepakatan untuk segera melakukan rekonsiliasi atas putusnya hubungan diplomatik mereka selama tujuh tahun itu. Mereka juga sudah bersepakat untuk membuka sekaligus mengoperasikan lagi kantor kedutaan besar (kedubes)-nya masing-masing dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu, mereka juga sudah bersepakat untuk mengaktifkan lagi sejumlah perjanjian kerja sama yang dulu sudah pernah mereka tandatangani puluhan tahun silamnya sekaligus menjadikannya kejutan karena selama ini pun mereka dikenal dengan prinsip kebijakan luar negeri “bertarung”-nya dari berbagai aspek di luar negeri bahkan hingga intervensi urusan dalam negeri masing-masing.    

 

Kemudian, analisa lain juga menyebutkan bahwa pulihnya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran ini nantinya diyakini akan mampu membawa perubahan terhadap peta keamanan geopolitik di Timur Tengah antara lain dengan semakin terwujudnya Aspirasi Iran mengenai Konsep Keamanan Teluk Persia yang harus dikendalikan oleh negara-negara kawasan setempat itu sendiri dengan tujuan guna mengurangi peran militer asing khususnya Amerika Serikat di sana mengingat Iran menjadi salah satu yang paling gusar dengan militer AS & Barat di sana. Akan tetapi, rupanya untuk dapat mencapai aspirasi tersebut masih dibutuhkan satu persetujuan lagi dari Arab Saudi. Kalau nanti Arab Saudi setuju, negara lain setempat yang lebih kecil pun akan sama-sama ikut setuju dan itulah perubahan peta keamanan geopolitik Timur Tengah yang sesungguhnya setelah pulihnya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran.

 

Nantinya hal ini jugalah yang sama-sama akan mampu menurunkan ketegangan secara umum di Kawasan Teluk Persia mengingat hal itu pun sebenarnya berasal dari ketegangan Arab Saudi-Iran selama ini, terlebih lagi sejak kedatangan Pasukan Militer Amerika Serikat dalam Peristiwa Invasi Irak Terhadap Kuwait Pada Tahun 1990 Silam. Saat itu Rezim Saddam Hussein memang masih berkuasa dan baru tumbang Pada Tahun 2003 Silam, menyisakan ketakutan Negara-Negara Arab Teluk terhadap Ancaman Iran yang menjadi alasan kuat mengapa Pangkalan-Pangkalan Militer AS masih tetap terus bertahan di sana sampai sekarang. Harapannya, ketakutan ini kedepannya bisa segera mereda setelah Rekonsiliasi Arab Saudi dan Iran. Namun hal ini juga tidak akan mudah lantaran Amerika Serikat dan Israel nantinya tidak akan tinggal diam dalam menanggapi hal ini, akan berusaha sekuat tenaga agar Konsep Keamanan Iran ini nantinya tidak bisa atau sama sekali langsung gagal terwujud. Belum lagi ditambah dengan Arab Saudi yang juga memiliki hubungan diplomatik nan baik dengan Amerika Serikat sehingga oleh karena itulah Arab Saudi kini dan nanti harus bisa bermain cantik di banyak tempat yakni Amerika Serikat itu sendiri, lalu Tiongkok dan juga Iran.

 

Terakhir sebagai penutup untuk bagian pertama ini, kedepannya pada era pasca rekonsiliasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran dengan peran besar Tiongkok ini, harapan besar lain yang turut serta muncul dan sekaligus mengiringinya antara lain adalah semakin besarnya peluang untuk terwujudnya perdamaian di Kawasan Timur Tengah. Terlebih lagi dengan mengingat selain di Iran itu sendiri, selama ini ketegangan keamanan geopolitik juga acap kali terjadi di Yaman, Lebanon dan Irak serta semua ketegangan itu juga masih ada kaitan eratnya dengan peran Arab Saudi dan Iran serta terlebih lagi rekonsiliasi ini nantinya dinilai akan sangat merugikan Israel. Konsep geopolitik dan keamanan Israel berupa Aliansi Israel-Arab guna melawan dan mengucilkan Iran dinilai akan gagal total pasca rekonsiliasi ini apalagi nilai strategis Abraham Accord (Perjanjian Abraham) melalui mediasi oleh Amerika Serikat rupanya mengalami penyusutan drastis pasca rekonsiliasi ini.

 

Sumber: “Rekonsiliasi Arab Saudi-Iran Ubah Peta Timur Tengah.” (Musthafa Abd. Rahman, Harian Koran Kompas Edisi 20 Maret 2023 Halaman 4).


Bagian Kedua:


Belum lama ini yakni pada Awal Bulan Maret 2023, Presiden Tiongkok Xi Jinping yang sudah genap menjalani masa jabatannya selama 10 Tahun sejak 2013 silam ini kebetulan baru saja dikukuhkan lagi sebagai Orang Nomor Satu di Negeri Tirai Bambu untuk yang ketiga kalinya dalam satu dekade ini dan sekaligus menjadikannya sebagai Presiden Tiongkok pertama yang berhasil terpilih dan lalu menjabat hingga tiga periode sepanjang perjalanan sejarah Tiongkok. Usai dinyatakan terpilih dan lalu menjabat lagi sebagai Presiden Tiongkok untuk periode ketiga ini, tanpa berpikir panjang lagi Presiden Tiongkok Xi Jinping langsung saja memulai salah satu agenda kebijakan luar negerinya yakni mengadakan kunjungan ke Rusia dan Ukraina saat ini.

 

Dilansir dari salah satu sumber terpercaya, awalnya kunjungan pertama Presiden Xi Jinping pada periode ketiganya ini ternyata masih belum menyinggung agenda tentang Perundingan Damai Rusia-Ukraina sebab semula Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menjelaskan bahwa kunjungan Sang Presiden ke Negeri Tirai Besi ini rupanya baru sebatas bertujuan untuk mempererat hubungan strategis dan komprehensif kedua negara. Untuk diketahui, aspek yang akan dibahas oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, Rusia kali ini adalah perdagangan dan keamanan dunia sekaligus dengan mengingat tingkat kepercayaan diri Tiongkok dalam diplomasi pada saat ini kebetulan memang sedang sangat tinggi usai sebelumnya tercatat berhasil mendamaikan Arab Saudi dan Iran yang dikenal sebagai musuh bebuyutan di Kawasan Timur Tengah sana.

 

Ketika artikel kutipan sumber tulisan ini baru pertama kali diterbitkan pada Hari Senin Tanggal 20 Maret 2023 silam, awalnya memang belum disebutkan kalau Presiden Tiongkok Xi Jinping akan segera membujuk Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang dengan perundingan damai bersama Ukraina. Paling jauh, keduanya disebut berpendapat bahwa mentalitas Perang Dingin yang selama ini terjadi sudah membawa dunia kepada arah ketidakseimbangan. Pada saat itu, pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin tersebut memang masih sama sekali belum menyinggung rencana Presiden Xi Jinping untuk tampil sebagai Penengah Konflik Rusia-Ukraina. Untuk diketahui juga sebelumnya, selama berlangsungnya Invasi Rusia Terhadap Ukraina ini Tiongkok sama sekali tidak pernah mengecamnya seperti kebanyakan negara-negara Barat melainkan malah tetap menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Rusia. Neraca perdagangan mereka sangat besar, yakni 190 Miliar Dolar AS per Tahun 2022 atau meningkat dari sebelumnya yang hanya 90 Miliar Dolar AS per Tahun 2013 atau sama dengan hampir 10 Tahun sebelumnya.

 

Komoditas utama yang diekspor dari Tiongkok ke Rusia adalah mobil terbukti dari 1.041 gerai otomotif Rusia yang menjual mobil buatan Tiongkok dan sebaliknya selama ini Rusia juga kerap kali mengekspor Tepung, Cokelat, Minuman Beralkohol dan Madu. Hubungan perdagangan antara kedua ini pun menjadi sangat lancar karena adanya perbatasan sepanjang 4.209 Kilometer. Lalu selain itu, topik pertemuan bilateral antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin ini pun secara lebih jauh lagi akan turut serta membicarakan kiprah mereka di Forum BRICS (Brazil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan dalam Bahasa Inggris) dalam rangka menyambut KTT-nya yang akan digelar pertengahan tahun ini.

 

Serta tidak lupa sebagai penutup untuk bagian ini, sebelumnya Tiongkok juga baru saja mengumumkan 12 Poin Inisiatif Keamanan untuk mengutamakan gencatan senjata di Ukraina. Awalnya negara-negara Barat protes karena inisiatif ini dianggap terlalu pragmatis dan menggampangkan isu Ukraina. Namun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebaliknya malah justru menyambut kehadiran inisiatif ini karena dirinya menilai bahwa perdamaian harus segera dilakukan termasuk oleh negara sebesar Tiongkok sekalipun karena itu sifatnya sangat penting. Maka oleh karena itulah dalam rangka menanggapi kehadiran inisiatif ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kemudian ingin mengundang Presiden Tiongkok Xi Jinping ke negaranya untuk bersama-sama membicarakan inisiatif itu walau belum ditanggapi Tiongkok.

 

Sumber: “Agenda Xi Belum Singgung Soal Perdamaian Rusia-Ukraina.” (Harian Koran Kompas, Edisi 20 Maret 2023 Halaman 4).  

 

Namun sumber lain malah justru menyebutkan kebalikan dari Keterangan Pers Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin tersebut. Setibanya di Moskow, Rusia pada Hari Senin Tanggal 20 Maret 2023 Silam, dalam pertemuan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin Presiden Tiongkok Xi Jinping malah justru menyatakan keinginannya untuk menjadi juru damai dalam perundingan antara Rusia dan Ukraina atas invasi yang selama ini juga sudah berlangsung. Beliau dinilai akan banyak memainkan Peran Tiongkok sebagai peacemaker dengan membawa sekaligus menciptakan sistem peacebuilding yang konstruktif untuk Rusia dan Ukraina, sekaligus membuka kemungkinan untuk bertemu secara langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dan yang paling menariknya, kunjungan Presiden Xi Jinping ke Rusia kali ini terjadi setelah Pengadilan Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda menjatuhkan surat perintah penangkapan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk selanjutnya diadili atas tindakan kejahatan perang dalam Invasi di Ukraina selama ini. Peran Tiongkok ini pun dinilai bahwa ia siap mengulangi kesuksesannya dengan Arab Saudi-Iran.

 

Sumber: Matthew Walsh. Agence France-Presse. The Jakarta Post. “Xi visits Russia, plays peacemaker.” (Halaman 1 & 11, Harian Koran The Jakarta Post Edisi Hari Senin Tanggal 20 Maret 2023).

 

Terakhir sebagai penutup, kebetulan sekali sumber kutipan untuk tulisan ini pun mengungkapkan bahwasannya maksud atau tujuan lain dari kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Rusia kali ini (juga sepanjang masa jabatannya selama ini) adalah untuk menegaskan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan juga negaranya bahwa Tiongkok adalah negara tetangga dekat Rusia yang akan setia membantu serta juga menolongnya di tengah-tengah isolasi dunia atas invasi yang selama ini terjadi di Ukraina. Sikap seperti ini pun mencerminkan hubungan yang sangat dekat antar kedua negara sekalipun di tengah-tengah situasi perang dan ketidakpastian keamanan geopolitik global kini.

 

Sumber: Agence France-Presse. The Jakarta Post. “Xi arrives in Moscow to discuss Ukraine conflict.” (Halaman 1 & 11, Harian Koran The Jakarta Post Edisi Hari Selasa Tanggal 21 Maret 2023).

              

                 

  

 

 
 
 

Recent Posts

See All
Definisi Globalisasi

Seperti yang kita ketahui, Globalisasi merupakan suatu proses dimana aspek-aspek kehidupan masyarakat dunia yang mencakup bidang...

 
 
 

Comments


bottom of page