Ekspansi NATO ke Asia Untuk Membendung Pengaruh Tiongkok (Mei 2023)
Belum lama ini, Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO mengumumkan rencananya untuk membuka kantor penghubungnya di Kawasan Asia yakni Jepang dalam rangka membendung pengaruh Tiongkok sekaligus berkonsolidasi dengan para mitranya di Kawasan Indo-Pasifik. Rencana NATO untuk membuka kantor penghubungnya di Jepang ini pun kemudian menuai reaksi dari Tiongkok yang menuduhnya melakukan ekspansi ke Timur dan sekaligus meminta negara-negaranya agar mewaspadai hal itu. Dan untuk lebih lengkapnya lagi, sekarang saya akan mencoba mengulasnya dalam tulisan ini.
Rencana ini pertama kali mengemuka berdasarkan laporan berita dari Media Jepang Nikkei pada Hari Rabu Tanggal 3 Mei 2023 silam. Rencananya NATO akan mulai membuka kantor penghubung barunya itu secara efektif terhitung mulai Tahun 2024 mendatang. Nantinya, melalui kantor penghubung inilah secara berkala NATO akan menggelar konsultasi dengan Jepang dan semua mitra utamanya di Kawasan Indo Pasifik seperti Australia, Korea Selatan dan Selandia Baru demi mengimbangi bangkitnya kekuatan Tiongkok di kawasan. Juru Bicara NATO Oana Lungescu mengkonfirmasi rencana tersebut dengan menyebutkan bahwa pembicaraan tahap final untuk rencana itu masih berlangsung sampai sekarang sekaligus dengan memastikan bahwa kantor penghubung itu nantinya akan memenuhi kebutuhan organsiasi serta mitranya di Kawasan Indo-Pasifik.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memastikan semakin kuatnya ikatan antara NATO dengan para mitranya di Kawasan IndoPasifik dalam rangka menghadapi tantangan Tiongkok di bidang keamanan siber serta ruang angkasa di pertemuan Menteri Luar Negeri NATO yang juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi. Bahkan sejak jauh sebelumnya lagi yakni pada Bulan Juli 2022 silam, sebanyak empat kepala negara setempat yakni Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan dan Australia yang hadir pada KTT NATO 2022 di Madrid, Spanyol sudah mengungkapkan akan adanya isyarat tersebut. Khususnya Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida yang menyebut, “Saya merasakan potensi krisis yang besar bahwa apa yang terjadi di Ukraina bisa saja terjadi di Asia Timur besok.”
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memang tak mengungkapkan secara spesifik soal satu negara mana saja yang berpotensi menjadi sumber ketegangan di Kawasan Asia Timur. Hanya saja, belakangan ini ketegangan yang sudah tampak dari kawasan ini pun selalu disinyalir berasal dari ketegangan antara Jepang dan Tiongkok, Korea Selatan dan Korea Utara hingga ketegangan di Selatan Taiwan. Konsep Strategis NATO 2022 pun menjelaskan, kebangkitan Tiongkok tersebut sudah menimbulkan tantangan sistemik terhadap keamanan Kawasan Euro-Atlantik. Akan tetapi kendati demikian, Rusia rupanya tetap tampil sebagai sumber ancaman paling signifikan dan langsung terhadap keamanan sekutunya. Tantangan dari Tiongkok itu membuat NATO ingin memperkuat dialog dengan para mitranya di Kawasan Indo-Pasifik dalam rangka mengatasi tantangan lintas kawasan serta tujuan demi kepentingan keamanan bersama di antara semua pihak.
Duta Besar Denmark untuk Jepang Peter Takso-Jensen berpandangan bahwa dengan kekhawatiran terhadap Tiongkok khususnya dalam ruang-lingkup persoalan keamanan Trans-Eropa membuat keputusan NATO menjaga hubungan dengan negara-negara mitranya di Kawasan Indo-Pasifik menjadi relevan. Duta Besar Peter menambahkan, usulan atas berdirinya kantor penghubung NATO yang baru di Jepang ini jelas akan menjadi langkah riil aliansi itu memperkuat hubungan selain dengan Jepang, namun juga dengan negara-negara mitranya dan Kawasan Indo-Pasifik secara keseluruhan tersebut.
Namun hal ini jelas membuat Tiongkok jadi merasa geram. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning menilai bahwa tindakan NATO melebarkan sayap ke Kawasan Asia-Pasifik ini jelas menjadi sebuah sikap ikut campur tangan dalam isu-isu seputar regional sebab hal itu juga akan merusak perdamaian dan stabilitas kawasan. “Asia merupakan sauh perdamaian dan stabilitas serta tanah menjanjikan bagi kerja sama dan pembangunan, bukan tempat pergulatan persaingan geopolitik.” Ungkap Jubir Kemenlu Tiongkok Mao Ning. Lalu beliau menambahkan, hal ini nantinya hanya akan memperlebar sayap pengaruh NATO hingga ke Kawasan Indo-Pasifik dengan semakin memicu konfrontasi untuk diwaspadai secara tinggi oleh kawasan seiring peningkatan ketegangan.
Sedangkan Mantan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian menilai hal ini tampak seperti gurita yang tengah memperluas tentakelnya hingga ke Kawasan Asia-Pasifik serta upaya merusak perdamaian seperti itu pun dinilai hanya akan mengalami kegagalan. Sebelumnya, Tiongkok sudah berulang kali memperingatkan kemungkinan terbentuknya blok militer di Asia. Pakar keamanan berpendapat hal ini pun sebenarnya malah sangat tidak mungkin mengingat kepentingan negara-negara Asia itu sangat beragam serta memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Tiongkok. Guna mengimbangi, Amerika-Serikat belum lama ini baru saja meluncurkan Program Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity pada Tahun 2022 silam terhadap Belt and Road Initiative (BRI) yang juga digunakan oleh banyak negara Asia, termasuk di antaranya Indonesia.
Sebagai penutup, Peneliti Tamu pada Pusat Penelitian Amerika Serikat di Sydney, Australia menilai kalau Protes Tiongkok terhadap agresivitas NATO menujukkan betapa besarnya ambisi mereka untuk memperkuat pengaruh di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan sedangkan langkah NATO tersebut sebelumnya itu tadi bertujuan untuk mengurangi peluang terjadinya Invasi Tiongkok terhadap Taiwan dengan dampak kerusakan yang lebih besar baik dari segi geo-ekonominya maupun geopolitik atau tatanan internasional.
Dikutip dari Koran Kompas Edisi Hari Jumat, 5 Mei 2023 Halaman 4. “China Minta Asia Waspadai Ekspansi NATO ke Timur.”
Comments