top of page
Search

Bedanya Hubungan Terbaru Uni Eropa dengan Tiongkok dibandingkan Amerika Serikat (April 2023)

Writer: Rivaldi Indrayana
Rivaldi Indrayana
Sep 5, 2024
4 min read

Berbicara tentang hubungan antara negara-negara Barat terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok pada masa kini jelas seolah-olah memang jadi tidak ada habisnya. Dalam beberapa tahun belakangan ini, ketiga blok negara tersebut selalu terlihat menjalin hubungan satu sama lain masing-masing dengan cara pendekatan atau approaching yang baik maupun dengan penuh ketegangan. Seperti misalnya Uni Eropa yang tampak selalu baik-baik saja dalam hubungannya dengan Tiongkok ini dan terutama khususnya Amerika Serikat (AS) yang dalam beberapa tahun belakangan ini tampak selalu bersitegang dengan Tiongkok baik itu untuk urusan seputar geopolitik dan keamanan maupun ekonomi. Lebih spesifik lagi, masih pada awal Tahun 2023 ini belum lama ini Presiden Perancis Emmanuel Macron baru saja selesai mengadakan kunjungan ke Tiongkok. Dalam kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu itulah ketika tengah bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Perancis Emmanuel Macron menegaskan sejumlah isu penting yang juga sekaligus jadi akan menegaskan posisi penting Uni Eropa di Tiongkok. Dan untuk lebih lengkapnya lagi, kami akan mengulas dalam Draft Thread Twitter terbaru kami sebagai berikut ini.


Awalnya, Presiden Emmanuel Macronterbang dari negara asalnya Perancis untuk secara langsung mengadakan kunjungan kerja di Tiongkok selama kurang-lebih tiga hari sejak tanggal 5 hingga 7 April 2023 silam. Ketika baru saja tiba di Tiongkok tersebut, Beliau tak dinyana langsung mendapatkan sambutan yang cukup hangat dan meriah tersebut sekaligus dengan mengingat dirinya yang juga mengantongi sejumlah kerja sama penting dalam kunjungannya tersebut. Lebih hangatnya lagi, saat itu beliau disambut secara langsung oleh Presiden Xi Jinping di Rumah Dinas Gubernur Provinsi Guandong. Untuk diketahui, rumah dinas tersebut memang sengaja dipakai untuk menyambut orang nomor satu di Perancis tersebut oleh karena faktor sejarahnya sendiri yang dimana pada Tahun 1978-1981 silam, ayah Presiden Xi Jinping yakni Xi Zhongxun memang pernah tinggal di sana sekaligus saat masih menjabat sebagai Gubernur Provinsi Guandong sedangkan Presiden Xi Jinping muda pada saat itu masih menjadi asisten Wakil Perdana Menteri Tiongkok Geng Biao yang juga kawan lama ayahnya sendiri.

 

      Lebih dari 40 Tahun kemudian ketika Presiden Emmanuel Macron datang, rumah dinas itu lalu digunakan sebagai lokasi tempat penyambutannya oleh Presiden Xi Jinping dengan sambutan berupa minum teh di beranda rumah dinasnya sambil berbincang tentang aneka hal sekaligus jamuan makan malam kenegaraan nan mewah di sana. Sebelum tiba di sini, bahkan Presiden Emmanuel Macron juga sudah mendapatkan sambutan hangat sejak masih baru juga keluar dari Pesawat Kepresidenan di Bandara, Menteri Luar Negeri Tiongkok Qin Gang sudah menyambutnya. Tiongkok menyebut Perancis adalah sahabat baiknya sendiri.

 

Sebagai pembuka informasi awal, kunjungan Presiden Emmanuel Macron ini rupanya juga sekaligus membawa sejumlah agenda kepentingan Perancis di Tiongkok ini seperti di antaranya kerja sama kedua negara untuk bersama-sama membangun pabrik tambahan baru Pesawat Airbus di Tianjin sekaligus memesan sebanyak ratusan pesawat baru dari Tiongkok.

 

Namun cerita berbeda didapati ketika Ketua Komisi Uni Eropa Ursula Von Der Leyen berkunjung ke Tiongkok sebelumnya. Begitu mendarat, Beliau rupanya tetap harus datang dengan melewati pemeriksaan standar selayaknya orang asing atau warga biasa yang baru saja datang dari luar negeri. Beliau juga tidak disambut oleh Presiden Xi Jinping di Gedung Balai Agung Rakyat, sedangkan Presiden Emmanuel Macron sudah langsung dapat berada di sana sehingga oleh karena itulah Ketua Komisi Uni Eropa Ursula Von Der Leyen kemudian jadi hanya berjalan kaki seorang diri kala menuruni anak-anak tangga gedung itu. Sementara Presiden Emmanuel Macron sedang dijamu makan malam oleh Presiden Xi Jinping, Ketua Ursula hanya sebatas berada di Kantor Perwakilan Uni Eropa untuk Tiongkok di Beijing dalam rangka menyampaikan konferensi pers seputar kunjungannya kala itu. Bahkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya, ketika Kanselir Jerman Olaf Scholz mengadakan kunjungan ke tempat yang sama, rupanya Tiongkok juga sudah menyatakan rasa tidak sukanya terhadap Ketua Komisi UniEropa Ursula Von Der Leyen sedangkan saat Presiden Emmanuel Macron datang, sudah ada kesepakatan untuk sekaligus bersamanya walau sebagian Warga Tiongkok menyatakan tidak suka terhadap Ketua Ursula yang dinilai hanya bisa mengikuti Presiden Emmanuel Macron saat tengah berkunjung ke Tiongkok ini.

 

Kemudian dalam kunjungan ketiganya ke Tiongkok selepas Pandemi Covid-19 ini berlalu, selain membawa agenda kerja sama ekonomi dengan menindaklanjuti isu-isu seputar Pabrik Pesawat Airbus di Provinsi Tianjin sebagaimana yang tadi sudah disebutkan, bersama Presiden Xi Jinping kali ini Presiden Emmanuel Macron turut serta membawa sejumlah agenda penting seperti isu-isu perdamaian kawasan/regional dan juga dunia khususnya dalam rangka untuk upaya dunia internasional merespon Invasi Rusia terhadap Ukraina. Dari sinilah, masih dalam bagian dari kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Tiongkok ini, Presiden Xi Jinping turut menekankan kesiapan negaranya untuk menjalin kerja sama sekaligus hubungan yang jauh lebih erat lagi dengan Uni Eropa khususnya agar mereka dapat bersama-sama melepaskan diri dari tekanan atau pengaruh Amerika Serikat terhadap mereka.

 

      Khusus untuk isu Invasi Rusia Terhadap Ukraina ini, dalam kunjungannya ke Tiongkok kali ini Presiden Emmanuel Macron menyatakan kesiapan negaranya untuk turut serta aktif berpartisipasi membantu Tiongkok dalam bernegosiasi dengan Rusia demi mencegah, mengurangi bahkan hingga menghentikan agresi militer ini walau Rusia itu sendiri melalui Juru Bicara Kremiln Dmitry Preskov masih belum menyetujuinya lantaran isu invasi ini dan juga sekaligus praktiknya di medan perang sangat kompleks. Akan tetapi kendati demikian, sosok penyambung suara Presiden Rusia Vladimir Putin ini juga menyebut bahwa Tiongkok adalah mitra sekaligus negara sahabat baik mereka yang paling berpotensi kuat untuk negosiasi.

 

      Kemudian hal serupa juga turut diungkapkan oleh Presiden Emmanuel Macron dalam kunjungannya ke Belanda tidak lama setelah menyelesaikan kunjungannya di Tiongkok ini. Selain itu dalam kunjungan di negara tetangganya ini, Presiden Emmanuel Macron juga dinilai dalam rangka untuk menegaskan sikapnya terhadap Tiongkok dan AmerikaSerikat agar bisa sama dengan Belanda sekaligus demi memperkuat perjanjian kerja sama pertahanan atau militer di antara kedua negara yang ditargetkan akan selesai disepakati pada 2024 ini.

 

      Namun kendati demikian, meski sebelumnya sempat menyatakan bahwa Perancis siap menjalin kerja sama yang lebih baik, dekat dan erat lagi dengan Tiongkok begitu juga Uni Eropa, dalam kunjungannya sebagai Presiden Perancis pertama yang datang ke Belanda dalam 23 Tahun belakangan ini sejak Tahun 2000 ini, Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa negaranya dan para anggota Uni Eropa yang lainnya tetap harus dapat bersikap netral dalam isu seputar Taiwan dengan tidak ikut-ikutan memihak kepada siapapun pihak yang bersitegang di sana yakni Tiongkok dan Amerika Serikat sebagaimana mereka juga tengah dan masih terus bersitegang di Taiwan dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal ini pun kemudian menegaskan seperti apakah sikap Presiden Emmanuel Macron sesungguhnya dalam menanggapi isu-isu seputar Tiongkok dan Amerika Serikat ini.

 
 
 

Recent Posts

See All
Definisi Globalisasi

Seperti yang kita ketahui, Globalisasi merupakan suatu proses dimana aspek-aspek kehidupan masyarakat dunia yang mencakup bidang...

 
 
 

Comments


bottom of page